Senin, 13 Agustus 2012

0

Keris

Posted in


 KERIS
keris
 

Keris adalah sejenis pedang pendek yang berasal dari pulau Jawa, Indonesia.
Keris purba tela h digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu.Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerah pulau Jawa dan Sumatra, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (Pulau Mindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yan g sangat langka dan bahkan hampir punah.
Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.
Bagian-bagian keris
Sebagian ahli to san aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.
* Pegangan keris
Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupa kan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.
* Wrangka atau Rangka
Wrangka, rangka atau saru ng keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai u ntuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya te rbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).
* Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm samp ai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam, wilut , dungkul , kelap lintah dan s ebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .
Sejarah Asal keris
Sejarah Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya. Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris. Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya. Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.
Keris “Modern”
Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18). Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai “keris kuno” dan ”keris baru” yang istilahnya disebut nem- neman ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah “keris kuno” yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pam or Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah ”keris kuno” , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium,stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel. Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bak unya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.
Keris Pusaka terkenal
Keris Mpu Gandring
Keris Pusaka Setan Kober
Keris Kyai Sengkelat
Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten
Keris Kyai Carubuk
Keris Kyai Condong Campur

0 komentar:

Minggu, 12 Agustus 2012

0

Saladin (LION OF THE DESERT)

Posted in , ,
Salahudin Al Ayubi

Salahudin Al Ayubi atau sering juga di sebut sebagai “Saladin” di dunia barat, merupakan panglima perang Muslim yang dikagumi kepiawaian berperang serta keshalihannya baik kepada kawan dan lawan-lawannya. Keberanian dan kepahlawanannya tercatat sejarah di kancah perang salib.


Juli 1192 sepasukan muslim dalam perang salib menyerang tenda-tenda pasukan salib diluar benteng kota Jaffa, termasuk didalamnya ada tenda Raja Inggris, Richard I. Raja Richard pun menyongsong serangan pasukan muslim dengan berjalan kaki bersama para prajuritnya. Perbandingan pasukan muslim dengan Kristen adalah 4:1. Salahudin Al Ayubi yang melihat Richard dalam kondisi seperti itu berkata kepada saudaranya : ” Bagaimana mungkin seorang raja berjalan kaki bersama prajuritnya? Pergilah ambil kuda arab ini dan berikan kepadanya, seorang laki-laki sehebat dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan berjalan kaki “. Fragmen diatas dicatat sebagai salah satu karakter yang pemurah dari Salahudin, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Walalupun sedang diatas angin tetap berlaku adil dan menghormati lawan-lawannya.

Sejarah Hidup Salahudin



Salahudin lahir disebuah kastil di Takreet tepi sungai Tigris (daerah Irak) tahun 1137 Masehi atau 532 Hijriyah. Bernama asli Salah al-Din Yusuf bin Ayub. Ayahnya Najm ad-Din masih keturunan suku Kurdi dan menjadi pengelola kastil itu. Setelah kelahiran Salahudin keluarga Najm-ad-Din bertolak ke Mosul, akibat ada konflik didalam kastil. Di Mosul , keluarga Najm bertemu dan membantu Zangi, seorang penguasa arab yang mencoba menyatukan daerah-daerah muslim yang terpecah menjadi beberapa kerajaan seperti Suriah, Antiokhia, Aleppo, Tripoli, Horns, Yarussalem, Damaskus.

Zangi berhasil menguasai Suriah selanjutnya Zangi bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Salib dari Eropa yang telah mulai memasuki Palestina. Zangi bersama saudaranya; Nuruddin menjadi mentor bagi Salahudin kecil yang mulai tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga ksatria. Dari kecil sudah mulai terlihat karakter kuat Salahudin yang rendah hati, santu serta penuh belas kasih. Zangi meninggal digantikan Nuruddin. Paman Salahudin, Shirkuh kemudian ditunjuk untuk menaklukan Mesir yang saat itu sedang dikuasai dinasti Fatimiyah. Setelah penyerangan kelima kali, tahun 1189 Mesir dapat dikuasai. Shirkuh kemudian meninggal. Selanjutnya Salahudin diangkat oleh Nuruddin menjadi pengganti Shirkuh.

Salahudin yang masih muda dan dinggap “hijau” ternyata mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Berkali-kali serangan pasukan Salib ke Mesir dapat Salahudin patahkan. Akan tetapi keberhasilan Salahudin dalam memimpin mesir mengakibatkan Nuruddin merasa khawatir tersaingi. Akibatnya hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Tetapi Nuruddin meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan. Akhirnya penyerangan dibatalkan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda. Salahudin berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya banyak disambut dan dielu-elukan. Salahudin yang santun berniat untuk menyerahkan kekuasaan kepada raja yang baru dan masih belia ini. Pada tahun itu juga raja muda ini sakit dan meninggal. Posisinya digantikan oleh Salahudin yang diangkat menjadi pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir.

Salahudin dan Perang Salib

Saat Salahudin berkuasa, perang salib sedang berjalan dalam fase kedua dengan dikuasainya Yerussalem oleh pasukan Salib. Namun pasukan Salib tidak mampu menaklukan Damaskus dan Kairo. Saat itu terjadi gencatan senjata antara Salahudin dengan Raja Yerussalem dari pasukan Salib, Guy de Lusignan.

Perang salib yang disebut-sebut sebagai fase ketiga dipicu oleh penyerangan pasukan Salib terhadap rombongan peziarah muslim dari Damaskus. Penyerangan ini dipimpin oleh Reginald de Chattilon penguasa kastil di Kerak yang merupakan bagian dari Kerajaan Yerussalem. Seluruh rombongan kafilah ini dibantai termasuk saudara perempuan Salahudin. Insiden ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara Damaskus dan Yerussalem. Maret 1187 setelah bulan suci Ramadhan, Salahudin menyerukan Jihad Qittal. Pasukan muslimin bergerak menaklukan benteng-benteng pasukan Salib. Puncak kegemilangan Salahudin terjadi di Perang Hattin.

Perang Hattin terjadi di bulan Juli yang kering. Pasukan muslim dengan jumlah 25000 orang mengepung tentara salib didaerah Hattin yang menyerupai tanduk. Pasukan muslim terdiri atas 12000 orang pasukan berkuda (kavaleri) sisanya adalah pasukan jalan kaki (infanteri). Kavaleri pasukan muslim menunggangi kuda yaman yang gesit dengan pakaian dari katun ringan (kazaghand) untuk meminimalisir panas terik di padang pasir. Mereka terorganisir dengan baik, berkomunikasi dengan bahasa arab. Pasukan dibagi menjadi beberapa skuadron kecil dengan menggunakan taktik hit and run.



Pasukan salib terdiri atas tiga bagian. Bagian depan pasukan adalah pasukan Hospitaler, bagian tengah adalah batalyon kerajaan yang dipimpin Guy de Lusignan yang juga membawa Salib besar sebagai lambang kerajaan. Bagian belakang adalah pasukan ordo Knight Templar yang dipimpin Balian dari Ibelin. Bahasa yang mereka gunakan bercampur antara bahasa Inggris, Perancis dan beberapa bahasa eropa lainnya. Seperti umumnya tentara Eropa mereka menggunakan baju zirah dari besi yang berat, yang sebetulnya tidak cocok digunakan di perang padang pasir.

Salahudin memanfaatkan celah-celah ini. Malam harinya pasukan muslimin membakar rumput kering disekeliling pasukan Salib yang sudah sangat kepanasan dan kehausan. Besok paginya Salahudin membagikan anak panah tambahan pada pasukan kavalerinya untuk membabat habis kuda tunggangan musuh. Tanpa kuda dan payah kepanasan, pasukan salib menjadi jauh berkurang kekuatannya. Saat peperangan berlangsung dengan kondisi suhu yang panas hampir semua pasukan salib tewas. Raja Yerussalem Guy de Lusignan berhasil ditawan sedangkan Reginald de Chattilon yang pernah membantai khalifah kaum muslimin langsung dipancung. Kepada Raja Guy, Salahudin memperlakukan dengan baik dan dibebaskan dengan tebusan beberapa tahun kemudian.

Menuju Yerussalem

Dari Hattin, Salahudin bergerak menuju kota-kota Acre, Beirut dan Sidon untuk dibebaskan. Selanjutnya Salahudin bergerak menuju Yerussalem. Dalam pembebasan kota-kota ataupun benteng Salahudin selalu mengutamakan jalur diplomasi dan penyerahan daripada langsung melakukan penyerbuan militer. Pasukan Salahudin mengepung Kota Yerussalem , pasukan salib di Yerussalem dipimpin oleh Balian dari Obelin. Empat hari kemudian Salahudin menerima penawaran menyerah dari Balian. Yerussalem diserahkan ketangan kaum muslimin. Salahuddin menjamin kebebasan dan keamanan kaum Kristen dan Yahudi. Fragmen ini di abadikan dalam film “Kingdom Of Heaven” besutan sutradara Ridley Scott. Tanggal 27 Rajab 583 Hijriyah atau bertepatan dengan Isra Mi’raj Rasulullah SAW, Salahudin memasuki kota Yerussalem.



Ada suatu percakapan dalam film Kingdom Of Heaven yang menarik bagi penulis, yang kurang lebih seperti ini :

Balian : ”Saya serahkan kunci kota Yerussalem kepada anda, tapi anda harus dapat bisa menjamin keselamatan kami, orang-orang non-muslim”

Salahudin: ”Saya akan jamin keselamatan anda”

Balian : ” Apa yang dapat menjamin kami bahwa anda akan menepati janji anda ?” (Balian masih ingat saat-saat Yerussalem jatuh ke tangan pasukan Salib, banyak penduduk sipil muslim yang dibantai sampai kota Yerussalem sesak oleh mayat, dan Balian khawatir Salahudin melakukan hal yang sama )

Salahudin : ” (diam sejenak..menatap tajam Balian) Saya akan menepati janji, Insya Allah ..saya adalah Salahudin saya bukan seperti orang-orang anda”.

…………………………………………………………
Di Yerussalem, Salahudin kembali menampilkan kebijakan dan sikap yang adil sebagai pemimpin yang shalih. Mesjid Al-Aqsa dan Mesjid Umar bin Khattab dibersihkan tetapi untuk Gereja Makam Suci tetap dibuka serta umat Kristiani diberikan kebebasan untuk beribadah didalamnya. Salahudin berkata :” Muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain”. Sangat kontras dengan yang dilakukan para pasukan Salib di awal penaklukan kota Yerussalem (awal perang salib), sejarah mencatat kota Yerussalem digenangi darah dan mayat dari penduduk muslimin yang dibantai. Sikap Salahudin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan adalah contoh kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam.

Salahudin Al-Ayubi tidak tinggal di istana megah. Ia justru tinggal di mesjid kecil bernama Al-Khanagah di Dolorossa. Ruangan yang dimilikinya luasnya hanya bisa menampung kurang dari 6 orang.Walaupun sebagai raja besar dan pemenang perang, Salahudin sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan menjauhi kemewahan serta korupsi.

Salahudin berhasil mempertahankan Yerussalem dari serangan musuh besarnya Richard The Lion Heart, Raja Inggris. Richard menyerang dan mengepung Yerussalem Desember 1191 dan Juli 1192. Namun penyerangan-penyerangannya dapat digagalkan oleh Salahudin. Kepada musuhnya pun Salahudin berlaku penuh murah hati. Saat Richard sakit dan terluka, Salahudin menghentikan pertempuran serta mengirimkan hadiah serta tim pengobatan kepada Richard. Richard pun kembali ke Inggris tanpa berhasil mengalahkan Salahudin.

Sepanjang sejarah Yerussalem sebagai kota suci bagi tiga agama, sejak ditaklukan Salahudin, Yerussalem belum pernah jatuh ketangan pihak lain. Baru setelah Perang Dunia I, Yerussalem jatuh ketangan Inggris yang kemudian diserahkan ke tangan Israel.

Semasa hidupnya Salahudin lebih banyak tinggal di barak militer bersama para prajuritnya dibandingkan hidup dalam lingkungan istana. Salahudin wafat 4 Maret 1193 di Damaskus. Para pengurus jenazah sempat terkaget-kaget karena ternyata Salahudin tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki selembar kain kafan yang selalu di bawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham nasirian (mata uang Suriah waktu itu).

Sampai sekarang Salahudin Al-Ayubi tetap dikenang sebagai pahlawan besar yang penuh sikap murah hati.


courtesy : GREAT COMMANDERS OF THE BATTLE FIELDS

0 komentar:

Jumat, 10 Agustus 2012

0

WAR OF BHARATAYUDHA

Posted in , ,



Gita is supposedly the advice given by Shri Krishna to  Arjuna  on the first  morning of the 18 day Mahabharata war on the Kurukshetra battleground.   The causes of the family feud and the consequent war lie in the events which occurred a couple of generations earlier and expose the fickleness as well as the greatness of man.   It goes to show how apparently normal events can have a far reaching consequences.  Readers may please note that what follows has been written from an historical standpoint and not from a mythological standpoint to which the pious are generally exposed.


THREE GENERATIONS EARLIER
The appropriate point to start this history would be the late 12th century BC when king Shantanu, 42nd in the lineage of the lunar dynasty of the Aryan kings (as given in the Bhagwat Purana), ruled Hastinapur (About 60 km NW of New Delhi, on the banks of  the Ganges). The roots of the Mahabharata war may be traced to his two marriages.
Shantanu’s first marriage   Once when Shantanu went hunting, he came across a beautiful woman and fell for her. She agreed to marry him on the condition that he would never question her deeds. He agreed. In the following years, she gave birth to seven children every one of which, as soon as it were born, she would take to the river and drown it. Shantanu became sad but could not question her because of the mutual agreement. However, when the next child was born he secretly followed her and stopped her from drowning the boy. She revealed that she was the River Ganga personified and had to drown the first seven children because of a curse. The eighth child was to have survived and was to be handed over to Shantanu but now that he had broken his promise she would leave him taking the son with her. Ganga left with the son but returned him to Shantanu when he grew to be a youth well versed in all branches of knowledge and in martial arts. The boy was named Devavrata and grew to be a brave warrior and a wise person, well versed in the code of righteous behaviour (i.e. Dharma). It was expected the he would succeed Shantanu, but events took a different turn. One may trace the root cause of the Mahabharata war to these events.
Shatanu’s second marriage Shantanu once came across a fisherman's daughter named Satyavati and fell in love with her. Her father agreed to give her in marriage to Shantanu on the condition that it would be her son who shall succeed him on the throne. Shantanu refused but was depressed in spirit. When Devavrata noticed this and found the reason he coaxed his father into the marriage. In order that his father be able to keep the promise regarding the succession to the throne, Devavarata himself denounced his right to the throne and besides took a vow that he would remain a celibate and would not get married so as to eliminate any chance of successors being born to him. This vow was so severe that Devavrata was called by people as Bhishma or severely frightening. Even today a serious vow is called a Bhishma-pratidnya or vow of Bhishma. Thus Shantanu was married to Satyavati. In return Shantanu gave a boon to Devavrata that he would die only when he wished it so.
Pandu and Dhritarashtra Shantanu had two sons from Satyavati. The elder son died in a battle. The second son Vichtravirya was a weakling but Bhishma supported him having the welfare of Hastinapur at his heart. In order to get Vichitravirya married Bhishma invaded Kashi and won three daughters of the king of Kashi. One of them prayed that she was already in love with another prince and was let go. Vichitravirya was thus married to the two remaining princesses Ambika and Ambalika. Vichitravirya however died without a son and heir to the throne. By the custom of those days it was permissible to breed a son through the brother of the husband, and the heir would be considered as legal. Note that this process was aimed not for pleasure but only towards the goal of procreation. There was no living brother to Vichitravirya, but before her marriage to Shantanu, Satyavati had a son from the Rishi Parashara, grandson of the great Rishi Vashishtha. This son was the famous great Rishi Vyasa who edited the Vedas, wrote Puranas and after the Mahabharata war composed the book Jaya which is the precursor to the epic Mahabharata. Satyavati, in consultation with Bhishma, called upon Vyasa to beget children for the two wives of the late Vichitravirya in order to have a successor to the throne. Unfortunately the elder son Dhritarashtra was born blind while the second son was anaemic and was therefore named Pandu. At the request of a slave of the palace, Vyasa also begot a son from her. This was Vidura who later turned out to be a great learned sage and played a significant role in the affairs of the kingdom.


PANDAVAS AND KAURAVAS
Because Dhritarashtra was blind, Bhishma who was a kind of regent, made Pandu ascend the throne. Pandu had two wives, Kunti, daughter of King Ugrasen of Yadava clan and Madri, the daughter of the king of Madra in Punjab. Kunti was thus the sister of Vasudeva, Shri Krishna’s father. Pandu had three sons from Kunti and two from Madri. Kunti’s sons were Yudhishtira (or Dharma), Arjuna (or Partha) and Bhima. Madri’s sons were named Nakul and Sahadeva.
Pandavas
Kuravas

Dhritarashtra was married to Gandhari the princess of Gandhar (now Kandahar in Afganistan). In deference to the blindness of her husband Gandhari throughout her life covered her eyes by tying cloth over them. They had hundred sons known as the Kauravas and a daughter. The eldest son was Duryodhana who was very ambitious and cunning. His second son was Duhshasana who was also like his elder brother. These brothers hated the Pandavas because they were better in character as well as in other qualities like bravery etc. and were liked by all.
Actually Pandu was not the real father of these sons. Legend goes that before her marriage, Kunti had served the great Rishi Durvasa who gave her a boon of six mantras which she could use whenever she wished for a child. (Pandu was anaemic and unable to bear children so Mahabharata seems to use this good ruse to legalise Kunti's and Madri’s children as Pandu's. But note that this system was socially accepted in those days and the Pandavas were never considered inferior in any way because of this. Also considering the qualities of the five sons there is no doubt that their real fathers were no ordinary persons.) Immediately after she received the boon Kunti, out of curiosity, tried one mantra while she was a virgin and prayed to the Sun God. He came in person and gave a son to Kunti. Kunti was frightened and secretly put the baby in a basket and left him afloat in the river. He was found by a charioteer and was named Karna also known as Radheya because his adopted mother’s name was Radha. When he grew up he joined the Kaurava group and was very close to Duryodhana. Karna played a major role in the Mahabharata war and led it after Bhishma retired from the war after getting seriously injured. Karna is considered as one of the greatest characters of the Epic Mahabharata, thrown by fate into the Kaurava camp in spite of being the eldest of the Pandavas and never wavering in his allegiance to Duryodhana even when the secret of his birth was revealed to him. He was as good as Arjuna in war and had to be killed by a trick arranged by Shri Krishna. Thus traditionally one speaks of only five Pandavas. According to the above legend Yudhishtira the eldest of the Pandavas was born from Yama the god of death, Arjuna from Indra the king of the gods and Bhima from Vayu the wind god. Yudhisthira was known for his truthfulness and morals while Bhima was very strong even as a child and became an expert in wielding the club or mace. Kunti passed on two mantras to Madri the other wife of Pandu. Her sons Nakul and Sahadeva were begot from the twin Ashwinikumars, the twin deities of medicine. Yudhisthira was known for his truthfulness and morals while Bhima was very strong even as a child and became an expert in wielding the club or mace.
Pandu’s death and Dhritarashtra’s enthronement Pandu died while he was in forest. Madri committed Sati by burning herself on the funeral pyre. Probably because Yudhishtira the eldest son of Pandu was too young, Bhishma enthroned Dhritarashtra even though he was blind.
After their father’s death the Pandavas along with Kunti returned to Hastinapur and stayed with their uncle Dhritarashtra. Both Kauravas and Pandavas studied together under the royal Guru Dronacharya, the martial arts, especially archery, the main weapon of those days as well as other branches of knowledge.
Kauravas’ enmity Pandavas and Kauravas studied Shastras and marshal arts, especially archery together under the royal Guru Dronacharya. The Kauravas always bore jealousy and animosity towards the Pandavas who were liked by all due to their excellent skills and personal qualities. Yudhisthira was known for his truthfulness and morals while Bhima was very strong even as a child and became an expert in wielding the club or mace. Arjuna was the best archer with unsurpassed skill with bow and arrow and was the most favourite student of Dronacharya. Duryodhana also was an expert with the mace. The Kauravas out of jealousy always tried to create trouble for the Pandavas and even tried to kill them by poisoning and by burning them, but Pandavas were saved by their well-wishers especially Vidura and Shri Krishna, who were aware of the vengeful nature of the Kauravas. The feud between the Pandavas and the Kauravas grew as the boys reached adulthood.
Pandavas marry Draupadi Kauravas, especially Duryodhana and Duhshasana once tried to poison Bhima but failed due to his strong constitution. Another time they plotted to burn them alive by inviting them to a house which they had especially built with inflammable materials. The Pandavas escaped but to create a false impression that they had died and thus avoid further attempts on their life, they had to travel around incognito, posing as Brahmin mendicants, hiding from the Kauravas lest they would be murdered. During this incognito stage they reached the kingdom of Panchala where a competition was held by the king Drupada in order choose a bridegroom for his daughter Draupadi or Panchali (also known as Krishnaa since she was dark complexioned). The competition consisted of hitting the eye of a revolving fish with an arrow while taking the aim through its reflection in water. While going around for alms the Pandavas reached the place of the competition. The difficult test was won by Arjuna. The Pandavas returned to their home with the princess Draupadi. Their mother, not knowing that Arjuna had won a princess, instructed them to share the gains equally among the five brothers. As they could not go against her command all five of them married Draupadi. (There are other examples of polyandry mentioned in the Puranas. But note that there are tribes in the northern hill regions of India where polyandry is still practised. Since social customs are well merged with religion it is difficult to change such practices.) Draupadi’s time was divided equally among the brothers and there does not seem to be any complaints. Shri Krishna was a cousin of Pandavas and always supported them. He was especially close to Arjuna. Draupadi considered Shri Krishna as her brother while Arjuna was married to Shri Krishna's sister Subhadra for which again shri Krishna was responsible.
Pandavas get Indraprastha When Pandavas became older they asked for their share of the kingdom. Dhritarashtra who was heavily under the influence of his sons refused but finally he had to give in and gave them a small piece of kingdom nearby. Its capital was Indraprastha which is also now part of New Delhi. People were very happy in their kingdom.
Pandavas kingdom Lost by gambling The Kauravas, advised by their maternal uncle Shakuni, the king of Gandhar, made a plan by which Pandavas would lose their kingdom in a gambling bout since it was not possible to win against Pandavas in any battle. It was considered the duty of a Kshatriya not to refuse to a duel or a gambling game. Taking advantage of this custom, Duryodhana invited Yudhishtira for a gambling bout. They used loaded dice which the Pandavas did not know. Yudhishtira who was known for his righteousness and truthfulness lost all he had including the kingdom. Duryodhana then challenged him to continue to play by putting on bet the liberty of his brothers which also was lost. Thus the brave Pandavas became slaves to the Kauravas. Now that the Pandavas were slaves the Kauravas unfortunately pulled Draupadi (who was under menstruation at that time) into the court where the game was being played. Duhshasana even tried to undress and molest her. Unfortunately all this was happening under the eyes of Bhishma and the other elders who had to keep quiet for keeping the unity of the kingdom. The episodes created a big furore in the court and it was finally decided that Pandavas should be condoned from being slaves and instead they should be banished to forest for twelve years and after that for one more year they should remain incognito. If they were identified during the incognito period then they were again to go to forest for another twelve years. Pandavas had to accept this proposal and they left the kingdom with Draupadi.
Coming out of incognito period Twelve years passed during which Kauravas tried a lot to trouble and humiliate the Pandavas but every time they failed. During the thirteenth year they went to King Virat as servants under different guises. Draupadi also remained as servant in the palace. Kauravas tried to discover their whereabouts but could not succeed. But towards the end, Kauravas invaded Virat to take away his wealth of the cattle when Arjuna had to take part in the battle and defeat the Kauravas. Thus, Arjuna was discovered. However that day was also the end of their one year incognito period. They therefore immediately claimed their kingdom back.
But things were not so simple. They had completed one lunar year (354 days) but Kauravas insisted they were meaning solar year (365 days). (See notes at the end of Ch. 8) This dispute was not resolved and finally it was decided that only a full scale war would decide the question of inheritance. To give Kauravas a final chance Shri Krishna tried to mediate but the Kauravas were blind with arrogance and power and tried to even arrest Shri Krishna. War became inevitable. But this was not a sniper war of today. Both parties conferred regarding the date of the war as well as the rules. Among the rules was that the war was to start every day at sunrise and the warriors were to stop fighting at sunset. Thus the Mahabharata war is called a Dharmayuddha or a war fought according to the rules of Dharma or a code of conduct.
Decision of war Both parties sent calls to their relations and supporters and people came from as far away as Afganistan which had Aryan kingdoms as well as from the east and the south. The venue of the war was Kurukshetra not far from New Delhi. (You may find it on a map of India. ) Shri Krishna played an interesting role in the war. Both Duryodhana and Arjuna went to meet Shri Krishna for his assistance in the war. Both reached his palace early morning and waited for Shri Krishna to wake up. Proudly, Duryodhana sat near his head while Arjuna sat humbly at his feet. When Shri Krishna woke up he first saw Arjuna and asked what he wanted. Thus the discussion started. Shri Krishna said that he himself would support one side and lend his army to the other. He also said that he would not handle any arms during the war. Duryodhana opted for the army while Arjuna opted for Shri Krishna. Shri Krishna acted as Arjuna's charioteer during the war and saved him from death many times. He was intelligent and shrewd and it is this shrewdness which mainly made Pandavas win the war. Bhishma. Dronacharya fought on Kauravas side as their duty but their heart was with Arjuna and Yudhishtir. However they did not become lax in their duties. The tales of the war and how Shri Krishna's tricks saved Pandavas is interesting and legendary but that is a different topic.


ARJUNA FEELS REMORSE
On the first day of the war Arjuna asked Shri Krishna to steer the chariot to the centre of the battlefield so that he can have an overview of the armies. But Shri Krishna advised him that he was merely doing his duty. That advice in expanded form is Gita. On the morning of the first day of the war, both armies were facing each other. Before the war was to start, Arjuna asked Shri Krishna, his charioteer to take the chariot to the centre between the armies in order to have a look at the warriors gathered there, because it was necessary to know with whom he was going to fight. Shri Krishna did so and indicated to Arjuna his elders like his grand-uncle Bhishma, his guru Dronacharya and other kings.
When Arjuna saw among both the armies his elders, brothers, cousins, uncles, friends and relatives and even grand-children (Arjuna was 65 years old at the time of this war. Shri Krishna was 83, Dronacharya 85 and Bhishma was more than 100 years old; Vasudeo, father of Shri Krishna did not fight but was 140 years old. It appears that people lived long in those days). the reality of fighting his own kith and kin, especially his grand-uncle Bhishma and Guru Dronacharya faced him. He realised the genocide that was going to occur for the sake of winning the kingdom and in a despondent mood, overcome with grief and compassion Arjuna said to Shri Krishna, "By seeing all these friends and relatives gathered here for war, I am feeling un-nerved and my mouth has gone dry. I am feeling confused. I do not think we will gain by killing these friends and relatives. The persons for whose benefit we desire the kingdom are those who have come here to sacrifice their life and wealth. I can see that this war will destroy many family lineages and when I see the horror of this destruction, how can I ignore the sins of that destruction? Because such a destruction leads to the destruction of morals. I am wondering how we became ready to commit this sin in the first place!" So saying Arjuna kept down his bow and sat quietly.

This was a shock to Shri Krishna. He said to Arjuna, "How did these thoughts of compassion, unbecoming to an Aryan, came into your mind in this time of crises? Shed this weakness and get ready for the war."
But Arjuna did not move. He said, "How can I strike persons like Bhishma and Dronacharya whom I should actually be worship? The blood will be on my hands. I am really confused and am not able to think what is right and what is wrong. Consider me your disciple and advise me what is proper." And then Arjuna fell silent. Shri Krishna then gave him the advice on duties of a person towards himself, the society and God. This advice presented as a dialogue between Arjuna and Shri Krishna is the Gita. It convinced Arjuna that he has to fight the war more as his dharma (righteous conduct and duty) as a Kshatriya (warrior caste) rather than for the gains of the kingdom. Thus convinced, he picked up his bow and arrows and got up to fight the war.
Portrayal Shri Krishna as Supreme God As readers would have concluded from the Prologue, Gita is not a factual report of the dialogue between Arjuna and Shri Krishna, if it really occurred at all. It is a later addition by Sauti to the Mahabharata, of which Gita is a part. It was written some centuries after Shri Krishna was deified and considered as an avatar of Lord Vishnu thus enabling Sauti to present Shri Krishna as the Supreme God. Having assigned the role of an avatar to Shri Krishna, he is mentioned in Gita (and Dnyaneshwari) as Bhagwan (God). In fact much of the advice to Arjuna rendered by Shri Krishna is in this role of Bhagwan which Arjuna also recognises. Thus Gita is usually mentioned as Bhagvadgita or Gita told by Bhagwan.
Both Shri Krishna and Arjuna are mentioned by various other names in the Bhagvadgita, but we shall maintain the names Shri Krishna and Arjuna in this translation for the sake of convenience.
Dhritarashtra, being blind could not participate in the war. Mahabharata (Sauti’s addition) tells us that he requested Shri Krishna that he should be able to learn about the events of the war. Shri Krishna granted divine sight to Dhritarashtra’s charioteer Sanjaya so that he could see the events of the war and describe them to Dhritarashtra. Thus Dhritarashtra and Sanjaya also knew the contents of Gita almost at the same time as Arjuna. But blinded by love for his sons it had no effect on Dhritarashtra. What he was interested in was only whether his sons were winning or not.
Life struggle compared with Kurukshetra war Mr Yardi has commented on this situation in very beautifully and analytically comparing the war to our struggles in life in the following words (Bhagvadgita as a Synthesis, M.R.Yardi, 1991. See Prologue): "Usually the author (meaning Sauti) gives an indication of the purport of the text in the very first sentence. Gita calls Kurukshetra the dharmakshetra implying thereby that the Pandavas are waging a righteous war against the Kauravas. The human mind vacillates between two tendencies, the divine and the demoniacal, each struggling for the supremacy over the other. Life is therefore the battleground for the settlement of great moral issues. This is true not only for the individual but also for the society as a whole and the human race. If man follows the path of dharma in a disinterested spirit, he grows in spiritual stature. But if he follows the path of adharma (i.e. lack of dharma), he sinks into the very depths of degradation. The blind king stands for a man who is blinded by self-love and affection for his wife and family, and who, instead of following the path of duty, spends his life-time in the mad pursuit of wealth, power and domination. This attitude naturally leads to conflict between individuals and nations. The Gita tells us how to resolve such conflicts and to attain salvation from the turmoil of life even while living."
Epilogue to the Mahabharata war The war lasted for eighteen days. Only survivors were the Pandavas, Dronacharya's son Ashwathama, Shri Krishna and a few others. Kauravas and their allies were completely decimated. It was one of the greatest genocide in history were young strong blood vanished. All Pandava's sons died so there was no heir to the hard won kingdom. Ashwathama as a revenge on behalf of the Kauravas tried to kill the foetus of Abhimanyu's child (Arjuna's grand child) but Shri Krishna by his yogic powers made it survive. Thus Pandavas had a heir after all. His name was Parikshit. Bhishma who had a boon of dying by his own will waited in injured condition until Uttarayana, the northward travel of the sun started. (Currently it starts on December 21. See notes under Ch 8.)
Yudhishtir became the king and reigned for 36 years. Just towards the end of his reign, Shri Krishna, while sitting under a tree in a forest (near Somnath in Gujarat state, Western part of India), was shot by an arrow in the leg by a hunter who mistakenly thought he was shooting a deer. Thus Shri Krishna died after an illustrious career at the age of about 118 years. He was cremated at Prabhas on the bank of the river Patan nearby. Shri Krishna was the king of the Yadava clan and his kingdom was Dwaraka, an isle off the west coast of Gujarat. Soon after his death the Yadavas fought among themselves and killed each other. Dwaraka was swallowed by sea. When the news of Shri Krishna's death came the Pandavas felt like orphans. Arjuna was given the task of escorting the widows of the Yadavas to Hastinapur but while Arjuna was escorting them the tribes on the way attacked him and took the women away. Arjuna had no power left as he was now old. He returned to Hastinapur shamefaced and very soon all the brothers went to the forest for passing their last days as was the custom in those days. Parikshit succeeded the throne.
Hindu tradition believes that Kaliyoga began with the death of Shri Krishna. After putting together various types of scientific, historical and other information Mr. Yardi concludes the date of Mahabharata war as 1011 BC give or take 50 years and in no case earlier than 1136 BC. This agrees fairly well with the broad estimate of approximately 1400 BC by the historians but differs greatly from the orthodox Hindu tradition which instead of 975 BC puts the start of the Kaliyuga at 3101BC said to be based on a single unsubstantiated statement of the famous astronomer-mathematician-philosopher Aryabhat.

0 komentar:

Selasa, 07 Agustus 2012

0

PRASASTI TUK MAS

Posted in ,
PRASASTI TUK MAS
Prasasti Tuk Mas menceritakan lembah yang diapit dua sungai suci
yang alamnya sangat subur dan dikelilingi oleh tempat-tempat suci (gunung). Sungai suci disamakan dengan Sungai Gangga di India. Walaupun tidak secara spesifik menceritakan wilayah Magelang, namun dalam prasasti ini menceritakan kondisi alam yang ada saat itu.
Prasasti Tuk Mas (diperkirakan sekitar tahun 500 M) ditemukan di Grabag, Kabupaten Magelang, tepatnya di Desa Dak Awu.  Sayang tidak bisa mudah diakses lokasinya, karena berada dipuncak bukit Tuk Mas karena lokasinya sudah digunakan sebagai tempat penyaluran air (PDAM) dan tidak setiap hari bisa naik ke atas bukit. Akan tetapi pada saat-saat tertentu bukit itu sangat ramai terutama pada musim kemarau, karena menurut sumber masyarakat setempat banyak orang yang mandi di atas bukit yang memang ada sumber mata airnya.

Prasasti Tuk Mas (harafiah berarti "mata air emas") adalah sebuah prasasti yang dipahatkan pada batu alam besar yang berdiri di dekat suatu mata air, yang ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang. Prasasti Tuk Mas dipahat dengan aksara Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta. Bentuk aksaranya lebih muda daripada aksara masa Purnawarman,dan diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-6 hingga abad ke-7 M.
Aksara prasasti ini sudah banyak yang rusak. Namun bagian yang masih dapat dibaca antara lain menyebutkan adanya sebuah sungai yang mengalir bagaikan Sungai Gangga di India. Pada prasasti ini terdapat pula lukisan alat-alat, seperti trisula, kendi, kapak, sangkha, cakra, dan bunga tunjung
Tulisan Dari Prasasti
Berikut alih aksara teks prasasti menurut Drs. Boechari:

  1. kwacit parwwatasānujātā
  2. kwacic chilawaluka nirggateyam
  3. kwacit prakirņna śubhasitatoya sam-
  4. prasutam — .. — waganga

0 komentar:

Senin, 06 Agustus 2012

0

10 CARA MENENANGKAN HATI

Posted in

10 CARA MENENANGKAN HATI

Betapa mahalnya harga ketenangan jiwa. Banyak yang mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya. Namun, tak sedikit juga yang keliru. Lihat saja apabila seseorang ingin mendapatkan ketenangan jiwa, sangup menghabiskan masa berjam-jam untuk berhibur sambil mengambil minuman keras. Tak sedikit yang menghabiskan wang ribuan ringgit untuk mendapatkan pil penenang. Sementara, ketenangan yang diperolehi hanya sebentar saja. Akibatnya bukan ketenangan jiwa yang diperolehi tetapi kerosakan dan kehancuran yang diterima.
Kehidupan setiap hari dengan berbagai-bagai masaalah menyebabkan seseorang mendapat stress, risau, bimbang, gangguan emosi dan kemurungan. Kehidupan yang mencabar, keperluan dan tuntutan kehidupan yang meningkat, kos sara hidup yang tinggi kesemuanya menyumbang kepada keadaan jiwa yang tidak tenang dan memberikan tekanan jiwa yang amat membimbangkan. Apabila keadaan ini tak dapat dikawal dikhuatiri berbagai masaalah yang akan timbul, dan kadangkala boleh mengakibatkan seseorang itu bertindak diluar batasan manusia yang sihat. Contohnya faktor bunuh diri, penderaan seksual, penyiksaan fizikal terhadap kanak-kanak dan pembantu rumah,membuang dan membunuh bayi yang baru dilahirkan, hinggakan ianya boleh sampai keperingkat membunuh orang lain.
Sahabat yang dimuliakan,
Hakikat sebenarnya, tak ada seorang pun boleh terlepas dari masaalah kehidupan. Itulah sunatullah yang berlaku di dunia. Kekayaan, pangkat dan kedudukan takkan mampu menghalanginya.
Namun, Islam memberikan penyelesaian terhadap tekanan hidup itu agar jiwa menjadi tenang. Tak ada istilah stress atau kecewa bagi seorang Mukmin. Persoalannya Islam telah memberikan penyelesaian untuk menghadapi tekanan hidup. Berikut adalah langkah-langkah yang boleh dilakukan untuk mendapat ketenangan jiwa:

1. Membaca dan mendengarkan kitab suci al-Qur’an :
Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah s.a.w.. Ia mengeluh, “Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah ubat bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram, jiwaku gelisah, dan fikiranku kusut. Makan tak lalu, tidur pun tak lena,” kata orang tersebut.
Ibnu Mas’ud menjawab, ”Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat :
Pertama, tempat orang membaca al-Quran. Engkau baca al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya.
Kedua, engkau pergi ke majlis ilmu yang mengingatkan hatimu kepada Allah.
Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdikan diri kepada Allah.
Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang tersebut. Sampai saja di rumah, segera ia berwudhu kemudian diambilnya al-Qur’an dan dibacanya dengan khusyuk. Selesai membaca, ia segera dapati hatinya memperoleh ketenteraman, dan jiwanya pun tenang. Fikirannya segar kembali, hidupnya terasa seronok kembali. Padahal, ia baru melaksanakan satu dari tiga nasihat yang disampaikan sahabat Rasulullah s.a.w tersebut.
2. Menyayangi orang miskin :
Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada Muslim yang punya kelebihan harta untuk memberikan perhatian kepada orang miskin. Ternyata, sikap dermawan itu boleh mendatangkan ketenangan jiwa. Mengapa? Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa para Malaikat selalu mendoakan orang-orang dermawan:
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya :“Setiap pagi hari dua Malaikat senantiasa mendampingi setiap orang. Salah satunya mengucapkan do’a: ‘ Ya Allah! Berikanlah balasan kepada orang yang bersedekah. Dan Malaikat yang kedua pun berdo’a :’ Ya Allah! Berikanlah kepada orang yang kedekut itu kebinasaan.”
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang dermawan itu memperoleh dua balasan. Pertama, ia mendapatkan ganjaran atas apa yang diberikannya kepada orang lain. Kedua, mendapatkan limpahan ketenangan jiwa dan belas kasihan dari Allah s.w.t.
3. Melihat orang yang di bawah, jangan lihat orang di atas :
Ketenangan jiwa akan diperoleh jika kita senantiasa bersyukur atas segala pemberian Allah s.w.t, meskipun nampak sedikit. Rasa syukur itu akan muncul bila kita senantiasa melihat orang-orang yang lebih rendah taraf kehidupannya dari kita, baik dalam segi harta kekayaan, tahap kesihatan, rupa paras, pekerjaan dan pendidikannya. Betapa ramai di dunia ini orang yang kurang bernasib baik. Rasa syukur itu selain mendatangkan ketenangan jiwa, juga akan mendapat ganjaran dari Allah s.w.t.
Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud :
“Siapa yang tidak bersyukur dengan pemberian yang sedikit, dia juga tidak akan bersyukur dengan pemberian yang banyak. Siapa yang tidak mensyukuri manusia, bererti dia juga tidak mensyukuri Allah. Memperkatakan nikmat Allah adalah tanda syukur, dan mengabaikannya adalah kufur. Berjemaah itu dirahmati, sedangkan berpecah belah itu mengundang azab.”
(Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad)
4. Menjaga perhubungan silaturahim :
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memerlukan perhubungan sesama manusia, untuk bantu membantu sesama mereka. Berbagai keperluan hidup tak mungkin diperolehi tanpa bantuan orang lain. Oleh itu, di dalam hadis Rasulullah s.a.w diperintahkan untuk tetap menjalin hubungan silaturahim, sekalipun terhadap orang yang melakukan permusuhan.
Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda bahwa silaturahmi dapat memanjangkan umur dan memurahkan rezeki . Hubungan yang baik di dalam keluarga, maupun dengan jiran tetangga akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kemesraan. Hubungan yang baik itu juga akan menyelesaikan berbagai masaalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud, “Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturahim (menjalinkan hubungan baik) nescaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezeki, ditambah umurnya dan Allah s.w.t. memasukkan ke dalam Syurga.”(Hadis Riwayat Ar-Rabii)
5. Banyak mengucapkan kalimah “la hawla wa la quwwata illa billah.” dan berzikir kepada Allah.
Sumber ketenangan jiwa yang hakiki adalah bersumberkan dari Allah s.w.t. Oleh itu hendaklah kita selalu menghubungkan hati dengan Allah s.w.t. dalam semua keadaan, baik dalam keadaan senang maupun susah. Banyakkanlah berzikir dan membaca kalimah-kalimah Allah. Perhubungan yang kuat dengan Allah s.w.t. akan membuat jiwa seseorang menjadi kuat, tak mudah diganggu gugat oleh sesiapa pun, apabila hati sentiasa mengingati Allah maka syaitan laknatullah tidak akan dapat mempengaruhi hati dan fikiran kita.
6. Mengatakan kebenaran walaupun ianya pahit didengar :
Hidup ini harus dijaga agar senantiasa berada di atas jalan kebenaran. Kebenaran harus diperjuangan. Pelanggaran terhadap kebenaran akan mendatangkan kegelisahan. Ketenangan jiwa akan terbina apabila kita tidak melanggar nilai-nilai kebenaran. Sebaliknya, pelanggaran terhadap kebenaran akan berpengaruh terhadap ketenangan jiwa. Lihat saja orang-orang kerap berbuat maksiat, kehidupannya dipengaruhi kegelisahan.
7. Sentiasa berlapang dada terhadap kecaman orang lain asalkan yang kita lakukan benar-benar kerana Allah :
Salah satu faktor yang membuat jiwa seseorang tidak tenang adalah kerena selalu mengambil perhatian kecaman orang lain terhadap dirinya. Sedangkan seseorang akan memiliki pendirian yang kuat jika berpegang kepada prinsip-prinsip yang datang dari Allah s.w.t. iaitu Islam sebagai cara hidup. Sekiranya kita ikuti apa yang berlaku di dunia sekarang ini, ianya akan menganggu ketenagan jiwa kita.
8. Tidak meminta-minta kepada orang lain :
“Tangan di atas (memberi) lebih mulia dari tangan di bawah” adalah hadis Rasulullah s.a.w yang memotivasi setiap mukmin untuk hidup berdikari. Tidak bergantung dan meminta-minta kepada orang lain, kerana jiwanya akan kuat dan sikapnya lebih berani dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya, orang yang selalu meminta-minta menggambarkan jiwa yang lemah. Hal ini tentu membuat jiwanya tidak tenang.
9. Menjauhkan diri dari berhutang :
Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w dengan tegas mengatakan yang bermaksud : “Janganlah engkau jadikan dirimu ketakutan setelah merasakan keamanan!”
(Para sahabat) bertanya:” Bagaimana boleh terjadi seperti itu!”
Sabdanya :” Kerana hutang.”
Begitulah kenyataanya. Orang yang berhutang akan senantiasa bimbang dan risau, kerena ia akan didatangi oleh orang yang memberi hutang kepadanya. Inilah salah satu faktor yang membuat banyak orang mengalami tekanan jiwa. Rasulullah s.a.w juga mengatakan dalam hadisnya yang bermaksud : “Hendaklah kamu jauhi hutang, kerena hutang itu menjadi beban fikiran di malam hari dan rasa rendah diri di siang hari.”
10. Selalu berfikiran positif :
Mengapa seseorang mudah stress dan jiwa tak tenang? Salah satu faktornya kerena ia selalu berfikiran negatif. Selalu mencela dan menyesali kekurangan diri. Padahal, setiap kita diberikan oleh Allah s.w.t. berbagai kelebihan. Ubahlah fikiran negatif itu menjadi positif. Ubahlah perasaan keluh kesah yang membuat muka berkerut, lemah badan dan kecewa dengan ucapan yang mengembirakan. Ucapan yang mengembirakan akan membuat kita mudah tersenyum, jiwa menjadi lebih bersemangat. Bukankah di balik kesulitan dan kegagalan ada hikmah yang boleh jadi pelajaran? Dan bukankah disebalik kesulitan ada kemudahan?

0 komentar:

Minggu, 05 Agustus 2012

0

Profil Dewa 19

Posted in
DEWA 19

Pada tahun 1986, empat siswa SMPN 6 Surabaya mulai merenda mimpi - mimpi indah menjadi musisi terkenal. Dengan kemampuan pas - pasan mereka mengibarkan bendera DEWA. Nama ini bukan sekedar gagah - gagahan, melainkan akronim dari nama mereka berempat : Dhani Manaf [Keyboard, Vokal], Erwin Prasetya [Bass], Wawan Juniarso [Drum], dan Andra Junaidi [Gitar]. Waktu itu kegilaan mereka pada musik sudah terlihat. Tidak jarang masing - masing terpaksa bolos sekolah, sekedar untuk bisa ngumpul dan genjrang - genjreng memainkan alat musik. Rumah Wawan di jalan Darmawangsa Dalam Selatan No. 7, yang terletak di salah satu sudut komplek Universitas Airlangga, menjadi markas mereka karena disana terdapat seperangkat alat musik walaupun seadanya namun Dewa bisa berlatih sepuasnya.


Yang membedakan Dewa dengan grup Surabaya lainnya ketika itu adalah warna musik yang mereka mainkan. Kalau grup lain gemar membawakan aliran heavy metal milik Judas Priest atau Iron Maiden, Dewa muncul dengan lagu - lagu milik Toto yang lebih ngepop. Hanya semuanya berubah ketika Erwin yang doyan jazz mulai memperkenalkan musik fudion dari Casiopea. Andra dan Dhani yang semula manteng di jalur rock, akhirnya ikutan juga. Format musik Dewa pun perlahan - lahan bergeser, bahkan mereka bukan

cuma memainkan lagu - lagu Casiopea, tapi juga karya dari musisi jazz beken lainnya seperti Chick Corea atau Uzeb. Dhani, Erwin, dan Andra lantas berangan - angan ingin seperti Krakatau atau Karimata, dua kelompok jazz yang lagi kondang saat itu. Ini membuat Wawan murung, penggemar berat musik rock ini merasa warna Dewa sudah keluar jalur. Akhirnya Wawan memutuskan keluar pada tahun 1988 dan bergabung dengan Outsider yang antara lain beranggotakan Ari Lasso. Setahun kemudian menyeberang ke Pythagoras. Posisi Wawan di Dewa lantas digantikan kakak kelasnya, Salman. Nama Dewa pun berubah menjadi Down Beat, diambil dari nama sebuah majalahjazz terbitan Amerika.


Untuk kawasan Jawa Timur dan sekitarnya, nama Down Beat cukup dikenal terutama setelah berhasil merajai panggung festival. Sebut saja Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II Jarum Super Fiesta Musik. Sementara itu Pythagoras pun berhasil jadi finalis Festival Rock Indonesia yang digelar promotor Log Zhelebor. Tapi bagi keempat cowok yang secara psikologis masih dalam pencarian jati diri itu, jazz ternyata juga hanya sebuah persinggahan. Begitu nama Slank
berkibar impian mereka pun berubah. Wawan Juniarso segera dipanggil kembali untuk menghidupkan Dewa dan Ari Lasso ikut bergabung. Nama Dewa kembali tegak, bedanya kali ini pakai embel - embel 19 semata karena rata - rata usia pemainnya 19 tahun. Seperti halnya Slank, Dewa 19 pun mencampuradukkan beragammusik jadi satu : pop, rock, bahkan jazz, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu. Teman sekelas Wawan, Harun rupanya tertarik oleh konsep tersebut dan segera mengucurkan dana Rp. 10 juta untuk memodali teman - temannya rekaman. Tapi karena di Surabaya tidak ada studio yang memenuhi syarat, mereka terpaksa ke Jakarta padahal jumlah dana tadi jelas pas - pasan. Walhasil mereka harus ngirit habis - habisan, segala hal dikerjakan sendiri termasuk mengangkat barangdan sebagainya. Tapi disini musikalitas mereka teruji.

Album perdana, 19 rampung cuma 25 shift saja. Termasuk luar biasa buat ukuran musisi daerah yang baru saja menginjak rimba ibukota. Dengan master di tangan, Dhani gentayangan dari satu perusahaan rekaman satu ke perusahaan rekaman lain pakai bus kota, sementaraErwin, Wawan, Andra dan Ari menunggu hasilnya di Surabaya. Sempat ditolak sana - sini, master itu akhirnya dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan Kla Project.Di luar dugaan, angka penjualan album 19 meledak di
pasaran, setelah melewati angka 300.000 kopi, pihak BASF mengganjar mereka dengan dua penghargaan sekaligus. Masing - masing untuk kategori Pendatang Baru Terbaikdan Album Terlaris 1993. Dalam pembuatan album Format Masa Depan diwarnai oleh hengkangnya Wawan Juniarso karena tidak adanya kecocokan diantaranya.

Setelah itu dalam pembuatan album berikutnya Dewa menggunakan additional music untuk drummernya yang antara lain : Ronald dan Rere. Setelah album Terbaik - Terbaik selesai, masuklah Wong Aksan menempati posisi drummer. Namun setelah menyelesaikan pembuatan album Pandawa Lima, pada tanggal 04 Juni 1998 Wong Aksan dikeluarkan dari Dewa 19, sebab pukulan dram Aksan dinilai mengarah kemusik jazz dan sebagai gantinya masuklah Bimo Sulaksono (mantan anggota Netral)



0 komentar:

2

Full Album of Dewa 19

Posted in
Full Album of Dewa 19 
 
Dewa 19 (1992)


1. Dewa 19 - Kangen (5:33)
2. Dewa 19 - Kita Tidak Sedang Bercinta (4:39)
3. Dewa 19 - Bayang - Bayang (6:28)
4. Dewa 19 - Selamat Pagi (4:48)
5. Dewa 19 - Swear (4:31)
6. Dewa 19 - Bayi 19 (inst) (2:36)
7. Dewa 19 - Rein (3:41)
8. Dewa 19 - Dewa & Si Mata Uang (3:33)
9. Dewa 19 - Hanya Mimpi (4:54)

Full Album
 ================================================
Dewa 19 - Format Masa Depan (1994)


1. Dewa 19 - Aku Milikmu (5:32)
2. Dewa 19 - Masihkah Ada (3:47)
3. Dewa 19 - Still I'm Sure We Love Agai (3:56)
4. Dewa 19 - Sembilan Hari & Liberty (7:29)
5. Dewa 19 - Format Masa Depan (4:09)
6. Dewa 19 - Mahameru (5:01)
7. Dewa 19 - Imagi Cinta (4:28)
8. Dewa 19 - Selamat Ulang Tahun (4:20)
9. Dewa 19 - Deasy (4:21)
10. Dewa 19 - Tak Kan Ada Cinta Yang Lain (4:29)

Full Album
================================================

Dewa 19 - Terbaik Terbaik (1995)


1. Dewa - I P S (1:10)
2. Dewa - Cukup Siti Nurbaya (4:47)
3. Dewa - Satu Hati (kita Semestinya) (5:27)
4. Dewa - Terbaik-terbaik (3:18)
5. Dewa - Hanya Satu (3:55)
6. Dewa - Cinta 'kan Membawamu Kembal (4:19)
7. Dewa - Manusia Biasa (5:07)
8. Dewa - Restoe Boemi (5:17)
9. Dewa - Hitam Putih (4:10)
10. Dewa - Jalan Kita Masih Panjang (4:15)
11. Dewa - Jangan Pernah Mencoba (4:31)

Full Album
================================================
Dewa 19 - Pandawa Lima (1997)


1. Dewa 19 - Kirana (4:20)
2. Dewa 19 - Aku Disini Untukmu (4:48)
3. Dewa 19 - Bunga (5:17)
4. Dewa 19 - Suara Alam (6:00)
5. Dewa 19 - Sebelum Kau Terlelap (4:23)
6. Dewa 19 - Satu Sisi (5:21)
7. Dewa 19 - Aspirasi Putih (3:24)
8. Dewa 19 - Cindi (4:18)
9. Dewa 19 - Petuah Bijak (3:49)
10. Dewa 19 - Selatan Jakarta (4:48)
11. Dewa 19 - Kamulah Satu-satunya (3:59)

Full Album

================================================
Dewa 19 - Bintang Lima (2000)


1. Dewa 19 - Mukadimah (0:49)
2. Dewa 19 - Roman Picisan (4:45)
3. Dewa 19 - Dua Sejoli (5:26)
4. Dewa 19 - Risalah Hati (4:54)
5. Dewa 19 - Separuh Nafas (5:02)
6. Dewa 19 - Cemburu (3:09)
7. Dewa 19 - Hidup Adalah Perjuangan (3:29)
8. Dewa 19 - Lagu Cinta (4:28)
9. Dewa 19 - Cinta Adalah Misteri (5:09)
10. Dewa 19 - Sayap sayap patah (4:20)
11. Dewa 19 - 1000 Bintang (0:53)

Full Album

================================================
Dewa 19 - Cintailah Cinta (2002)


1. Dewa 19 - Arjuna (5:13)
2. Dewa 19 - Kosong (3:35)
3. Dewa 19 - Mistikus Cinta (5:38)
4. Dewa 19 - Angin (4:11)
5. Dewa 19 - Pupus (5:05)
6. Dewa 19 - Cintailah Cinta (5:14)
7. Dewa 19 - Kasidah Cinta (4:22)
8. Dewa 19 - Bukan Rahasia (4:31)
9. Dewa 19 - Air Mata (7:34)

Full Album

================================================
Dewa 19 - Laskar Cinta (2004)


1. Dewa 19 - Sweetest Place (2:17)
2. Dewa 19 - Indonesia Saja (2:45)
3. Dewa 19 - Pangeran Cinta (4:40)
4. Dewa 19 - Atas Nama Cinta (4:16)
5. Dewa 19 - Satu (4:46)
6. Dewa 19 - Hidup Ini Indah (5:32)
7. Dewa 19 - Cinta Gila (5:11)
8. Dewa 19 - Nonsens (4:20)
9. Dewa 19 - Hadapi Dengan Senyuman (4:10)
10. Dewa 19 - Matahari Bintang Bulan (4:43)
11. Dewa 19 - Aku Tetaplah Aku (2:34)
12. Dewa 19 - Shine On (3:48)

Full Album

================================================
Dewa 19 - Republik Cinta (2006)


1. Dewa 19 - Laskar Cinta "Chapter One" (4:04)
2. Dewa 19 - Laskar Cinta (Chapter Two) (1:16)
3. Dewa 19 - Emotional Love Song (4:59)
4. Dewa 19 - Larut (4:10)
5. Dewa 19 - Sedang Ingin Bercinta (4:02)
6. Dewa 19 - Perasaanku Tentang Perasaanku Kepadamu (5:10)
7. Dewa 19 - Lelaki Pencemburu (4:17)
8. Dewa 19 - Lovers Rhapsody (3:54)
9. Dewa 19 - I Want to Break Free (3:25)
10. Dewa 19 - Flower In The Dessert (3:28)
11. Dewa 19 - Live On (3:13)
12. Dewa 19 - Selimut Hati (4:38)

Full Album

================================================
Dewa 19 - Kerajaan Cinta (2007)


1. Dewa 19 - Dewi (Lagu Baru) (4:21)
2. Dewa 19 - Mati Aku Mati (Lagu Baru) (3:44)
3. Dewa 19 - Roman Picisan (New Version) (4:05)
4. Dewa 19 - Separuh Nafas (New Version) (3:42)
5. Dewa 19 - Kangen (New Version) (5:00)
6. Dewa 19 - Angin (New Version) (4:12)
7. Dewa 19 - Sedang Ingin Bercinta (4:00)
8. Dewa 19 - Laskar Cinta (Chapter 1) (4:04)
9. Dewa 19 - Laskar Cinta (Chapter 2) (1:14)
10. Dewa 19 - Emotional Love Song (4:56)
11. Dewa 19 - Larut (4:08)
12. Dewa 19 - Perasaanku Tentang Perasaanku Padamu (5:06)
13. Dewa 19 - Lelaki Pecemburu (4:16)
14. Dewa 19 - Selimut Hati (4:39)

Full Album

================================================
Dewa 19 - The Best Of Dewa 19 (1999)


1. Dewa 19 - Elang (4:21)
2. Dewa 19 - Kirana (4:21)
3. Dewa 19 - Aku Milikmu (5:34)
4. Dewa 19 - Cukup Siti Nurbaya (4:47)
5. Dewa 19 - Cinta kan Membawamu Kembali (4:21)
6. Dewa 19 - Kangen (5:32)
7. Dewa 19 - Aku Di Sini Untukmu (4:49)
8. Dewa 19 - Kamulah Satu-satunya (4:01)
9. Dewa 19 - Satu Hati (5:25)
10. Dewa 19 - Persembahan Dari Surga (5:12)

Full Album

================================================

2 komentar: